Membaiknya kehidupan

04.04.00

Seringkali, ketika kita bertemu dengan rekan seperjuangan kita dahulu apakah itu satu kampus, satu sekolah, ataupun satu kompleks rumah, yang pertama kita lihat adalah penampilan mereka. Apakah mereka menggunakan baju yang baik, sepatu yang keren, serta mengendarai mobil ataukah motor.


Pertama, tentu kita menanyakan kabar.
Kedua, kita akan melanjutkan pertanyaan kepada hal hal yang lebih pribadi seperti apakah sudah menikah dan punya anak berapa.
Selanjutnya, biasanya kita akan melanjutkan dengan pertanyaan: "Kerja dimana sekarang?"

Dari semua pertanyaan ini, tiba tiba saja kita terbiasa mengeluarkan pendapat (seringkali hanya terucap di hati) apakah orang di depan kita lebih baik hidupnya dari kita ataukah sebaliknya. 

...

Di hari indah yang lain, beberapa tahun kemudian, kita pun bertemu dengan rekan yang dulu pernah kita temui. Pertanyaan-pertanyaan yang sama terucap untuk kedua kalinya. 

Dari sini, berbagai respon kita terima:
- Ada yang berubah, baik itu karir, penampilan, status pernikahan, jumlah anak, ataukah nasib baik sudah memihak padanya sehingga Anda sendiri terkagum kagum melihat perubahan dari rekan Anda tersebut.

- Sama saja. Tidak ada yang berubah. Bahkan, terkesan stagnan. Jika Anda dulu melihat rekan Anda menaiki motor, hari ini Anda masih melihat rekan Anda tersebut menaiki motor, motor yang sama ketika Anda bertemu dengannya 5 tahun yang lalu.

Untuk kasus kedua dengan klausul sama saja, kadang kita menarik kesimpulan dan judgement pribadi: "Kehidupannya belum membaik..."

...

Kesimpulan yang sama bahkan akan lebih kuat muncul tatkala Anda bertemu rekan Anda tersebut 20 tahun kemudian. Lagi-lagi, Anda tidak melihat perubahan apapun dari rekan Anda tersebut. Motornya masih sama. Penampilannya masih sama, dll. Aspek ekonomi adalah aspek yang sering kita anggap penting dalam hidup ini. Ketika seseorang mengalami stagnasi dalam hal ekonomi, maka kita akan menyimpulkan bahwa "Tuhan belum membaikkan hidupnya" atau "Tuhan belum mengangkat hidupnya menjadi lebih baik".

Kesimpulan tersebut tentu boleh boleh saja. Tidak ada yang berhak mengambil alih independensi Anda terhadap pendapat. Pendapat Anda tentu juga sah sah saja. 

Namun, bagi saya, ekonomi benar benar telah menjajah dan menguasai pikiran kita. Sejak kapan dan darimana kita selalu menilai orang dari ekonomi. Berapa penghasilannya, apa tunggangannya, perhiasan apa yang dia pakai, pakaian mewah apa yang dia kenakan. Semua terkait ekonomi. Seolah, membaiknya kehidupan seseorang harus selalu menggunakan parameter ini. 


...

Buat saya, membaiknya kehidupan tidak bisa kita nilai dari segi ekonomi. Terdapat 3 faktor utama apakah seseorang dapat kita katakan memiliki kehidupan yang lebih baik atau lebih buruk dari versi saya. Tiga hal ini sering terucap dalam doa keseharian kita:

Allahumma A'inni Ala dzikrika wa syukrika wa husni ibadatik

Menurut saya, membaiknya kehidupan seseorang diukur dari:
1. Seberapa lebih seringkah kita dalam mengingat Allah SWT
2. Seberapa lebih banyakkah kita bersyukur kepadaNya
3. Seberapa lebih baikkah ibadah kita dari masa ke masa

Mari kita masukkan beberapa faktor ekonomi kepada indikator ini:

- Beli mobil baru
Mobil baru dapat menjadi sebuah rezeki, namun juga dapat menjadi sebuah bencana. Pertanyaannya dikembalikan kepada ketiga hal di atas. Apakah mobil baru bisa membantu kita untuk lebih sering mengingat Allah SWT? jawabannya bisa ya dan tidak. Apakah mobil baru dapat membuat kita lebih sering bersyukur kepadaNya ketimbang dulu ketika tidak memiliki mobil? jawabannya bisa ya dan tidak. Apakah mobil baru bisa membaikkan ibadah kita? ataukah hanya membuat kita tidak pernah bisa mengejar magrib karena masih terjebak macet dijalan? tentu jawabannya pun bisa iya dan bisa tidak.

- Jabatan bagus
Sebuah jabatan bagus, dapat menjadi sebuah anugerah dan amanah, namun dapat pula berubah menjadi sebuah bencana. Lagi-lagi, cobalah benturkan dengan ketiga hal tersebut. Apakah jabatan ini dapat lebih sering membuat kita ingat Allah, atau justru sebaliknya? apakah jabatan dapat membuat kita lebih banyak bersyukur kepadaNYa, ataukah sebaliknya. Apakah jabatan ini mempermudah kita untuk lebih memperbanyak ibadah, ataukah sebaliknya? Lagi lagi, jawabannya bisa ya dan bisa juga tidak.

- Usaha yang berkembang
Usaha kita berkembang. Dari satu outlet kini menjadi sepuluh outlet. Dari lima karyawan kini menjadi 50 karyawan. Apakah kehidupan kita membaik? mari kita benturkan dengan ketiga hal tersebut di atas. Jika jawabannya adalah ya, maka kehidupan kita memang benar benar membaik. Jika jawabannya adalah tidak, atau belum, berhati hatilah. Jangan jangan Allah tengah menyibukkan kita untuk semakin jauh kepadaNya. 


Melalui ketiga indikator ini, kita pun akan mampu lebih baik dalam menyimpulkan, apakah kehidupan seseorang telah membaik, ataukah stagnan, ataukah sebaliknya, memburuk. 

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Untuk apa sekolah? [Penting dibaca para orang tua]

Untuk apa sekolah. Sebuah pertanyaan yang memiliki berbagai versi jawaban, tergantung  kepada siapa Anda bertanya. Pertanyaan ini merup...

Cari Blog Ini