Rasul yang Super Jenius

11.49.00

Tulisan berikut hanya memaparkan sebagian kecil kejeniusan Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW. Sepanjang hidup beliau sungguh dipenuhi dengan bukti berbagai kejeniusan beliau. Salah satu wujud betapa jeniusnya beliau adalah ketika menyelesaikan permasalahan-permasalahan ummat, yang jika diselesaikan tidak dengan bijaksana, dapat menjadi sumber pertengkaran, perpecahan, bahkan bertumpahan darah.


Menyelesaikan sengketa Hajar Aswad

Kala itu, Ka'bah harus di restorasi karena Mekkah dilanda banjir bandang yang hebat. Semua orang dari berbagai kabilah bahu membahu untuk memperbaiki rumah Allah tersebut. Masalah muncul di saat mendekati akhir pembangunan. Siapakah yang berhak meletakkan batu Hajar Aswad di tempatnya seperti sedia kala? masing masing pemimpin kabilah meng klaim diri merekalah yang paling berhak melakukan hal tersebut. Hampir saja situasi ini menjadi genting dan berpotensi menimbulkan pertumpahan darah sebelum akhirnya Rasulullah yang kala itu belum menerima wahyu hadir dengan usulan solusi. Rasulullah yang menurut riwayat yang paling kuat saat itu berusia 35 tahun mengusulkan untuk memberikan hak peletakan batu Hajar Aswad pada siapapun yang keesokan harinya datang paling pagi di depan Ka'bah. Usulan ini disetujui oleh semua kabilah.

Keesokan harinya, ternyata yang datang paling pagi adalah Rasul sendiri. Dengan demikian, Rasul menjadi orang yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada posisinya semula. Walaupun demikian, Rasul yang jenius kemudian malah menghamparkan sorbannya dan mempersilahkan tiap pemimpin kabilah untuk mengangkat batu Hajar Aswad dengan memegang sisi-sisi sorban beliau tersebut. Barulah setelah dekat dengan posisinya, Rasul mengangkat batu ini dan meletakkannya ke posisinya. Solusi semacam ini merupakan solusi jenius yang hanya bisa muncul dari pribadi-pribadi yang disucikan seperti Nabi.

Dimana tinggal di Madinah

Tatkala Rasulullah memutuskan untuk berhijrah dari Mekkah ke Madinah, penduduk Madinah dan semua petingginya sangat menanti kedatangan beliau. Ketika akhirnya Rasulullah sampai ke Madinah, penduduk Madinah bukan kepalang bahagianya. Saking bahagianya, mereka berbaris berjejer menyambut nabi dan melantunkan syair yang mahsyur:

Telah terbit bulan purnama
Dari celah bukit ke tengah tengah kita
Kita wajib bersyukur senantiasa
Selama penyeru Allah masih ada

Wahai yang diutus kepada kami
Kau datang bawa perkara yang harus ditaati
Kau datang agungkan Madinah yang suci
Selamat Datang, wahai sebaik-baiknya penyeru ilahi

Masalah datang ketika Rasul hendak memutuskan di rumah siapa beliau akan tinggal untuk sementara waktu. Berbagai pemimpin kabilah dan sanak saudara beliau dari garis keturunan Ibu saling menawarkan rumah mereka dengan berbagai fasilitas terbaik di dalamnya. Semua mencintai nabi. Semua ingin mendapat kehormatan dari nabi untuk tinggal bersama mereka.

Melihat situasi seperti ini, Rasulullah yang jenius memberikan keputusan. Biarkan unta beliau yang memutuskan dimana nabi akan tinggal. Dilepaslah tali kekang unta tersebut dan semua orang menanti dimana unta tersebut akan berhenti. Pada akhirnya, unta nabi berhenti tepat didepan rumah Abu Ayyub Al Ansari. Seorang sahabat yang memiliki rumah sederhana, yang sama sekali tidak berani bermimpi bersaing dengan pemimpin kabilah kabilah madinah untuk menawarkan tempat tinggalnya untuk nabi. Betapa beruntungnya sahabat ini karena sang unta berhenti tepat di depan rumahnya.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Untuk apa sekolah? [Penting dibaca para orang tua]

Untuk apa sekolah. Sebuah pertanyaan yang memiliki berbagai versi jawaban, tergantung  kepada siapa Anda bertanya. Pertanyaan ini merup...

Cari Blog Ini