Untuk apa sekolah? [Penting dibaca para orang tua]

19.30.00

Hasil gambar untuk sekolah

Untuk apa sekolah. Sebuah pertanyaan yang memiliki berbagai versi jawaban, tergantung  kepada siapa Anda bertanya. Pertanyaan ini merupakan pertanyaan penting yang harus dikuasai jawabannya oleh semua orang tua. Jika tidak, dikhawatirkan anak anak kita tidak akan memiliki semangat yang benar untuk sekolah. Padahal, sekolah setidaknya akan memakan 1/5 bahkan 1/4 bagian dari total usia kita di dunia ini. Tanpa motivasi yang tepat, sekolah hanya akan menjadi hal yang menyakitkan buat anak anak kita. Berangkat dari hal ini, saya mencoba mengumpulkan beberapa jawaban dari orang sekitar. Semoga dapat menjadi referensi yang bermanfaat buat para orang tua.


Untuk apa sekolah? untuk jadi kaya
Jawaban ini, entah kenapa, masih sering terdengar di telinga kita. Padahal, almarhum Bob Sadino telah menerbitkan sebuah buku yang cukup mendapat apresiasi kala itu yaitu "Kalau mau kaya jangan sekolah". Jika Anda membaca buku tersebut, berbagai argumen yang beliau kemukakan cukup logis. Almarhum Bob Sadino sendiri merupakan orang sukses yang tidak mengenyam bangku sekolah. Di keseharian kita pun banyak kita temui orang orang yang bahkan untuk menulis tanda tangan saja tidak bisa (mereka akan menggunakan cap jempol untuk administrasi), namun mereka kaya raya. Jauh lebih kaya dari orang yang mungkin telah bersekolah selama 20 tahun. Kitapun sering menjumpai banyak bintang kelas dan lulusan terbaik yang ternyata tidak mampu menjadi kaya. Sebaliknya, anak yang mungkin biasa saja atau bahkan menjadi yang paling bodoh di kelas / sekolah setelah lulus menjadi jutawan atau bahkan mungkin miliyarder. Jadi, jawaban sekolah untuk agar kita menjadi kaya, adalah jawaban yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada korelasi atau irisan antara sekolah dan kekayaan seorang manusia. 


Untuk apa sekolah? untuk jadi pintar
Jawaban ini tidak salah, namun kadang juga tidak benar. Seperti jawaban yang pertama, dugaan sekolah membuat pintar  sering tidak sejalan dengan fakta yang ada. Kalau pintar saja tidak, apalagi kreatif. Sekolah bahkan sering dituduh menjadi biang keladi yang membunuh kreatifitas anak anak kita karena semua anak mendapatkan treatment yang sama, dididik untuk menjadi mesin industri yang sama, dengan standar yang sama. Sekolah sering tidak menghiraukan bakat asli yang ada pada setiap diri anak. Ada analogi sederhana bahwa anak anak kita memiliki bakat masing-masing seperti berhitung, menggambar, atau bahkan menghafal. Di sekolah, anak anak kita mendapatkan ujian berhitung. Akibatnya, yang berbakat menggambar akan terlihat bodoh. Ketika ujiannya diganti ujian menggambar, yang pintar berhitung akan dianggap bodoh dst. 

Yang lebih memprihatinkan, sekolah saat ini banyak yang tidak menjalankan fungsi dan tugasnya. Sekolah yang baik, adalah sekolah yang mampu membuat anak bodoh menjadi pintar. Kalau ada sekolah, menerima siswa yang pintar, lalu meluluskan siswa pintar, itu biasa saja. Secara agregate muridnya sudah pintar. Mau diapakan juga akan tetap pintar. Tinggal dipoles sedikit saja. 

Maka, carilah sekolah yang benar menjalankan fungsinya. Membuat anak bodoh menjadi pintar. 

Untuk apa sekolah? untuk cari kerjaan dan bisa melanjutkan hidup
Jawaban seperti ini lebih aneh lagi bagi saya. Kenapa aneh, karena ya memang aneh. Cobalah berjalan ke daerah pedalaman Indonesia seperti di Papua. Anda akan terkejut ketika menjumpai tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan disana melalui sekolah. Bahkan, argumen ini juga yang digunakan oleh orang tua murid disana sehingga tidak mendorong anaknya untuk sekolah. Buat apa anak saya sekolah. Disini tidak ada kantor, tidak ada pabrik. Kalau mau cari makan, kami cukup berburu, atau mengail ikan, atau menanam singkong. Hal hal ini tidak diajarkan di sekolah. Lantas, buat apa anak saya sekolah? 

Perhatikan bagaimana desa selalu ditinggalkan oleh anak mudanya. Hal ini karena sekolah baru berfungsi di kota, tempat pusat industri dan kantor, dimana apa yang dipelajari di sekolah bisa sedikit bermanfaat untuk pekerjaan. Tanpa ber urbanisasi, fungsi sekolah sampai SMA hampir tidak dapat ditemukan di desa. 

Lalu, tidak ada kaitannya hidup kita dengan sekolah. Kalau sekolah membuat kita melanjutkan hidup, pastinya semua orang yang tidak sekolah akan mati. Tidak seperti itu faktanya bukan.

Untuk apa sekolah? karena orang lain melakukannya (biar tidak tertinggal)
Kata lain dari jawaban ini adalah karena ikut ikutan. Malu lah kalau anak kita sudah masuk usia sekolah tapi dia berdiam diri dirumah. Alasan ini tidak salah. Sudah selayaknyalah kita menghindari hal hal tabu di masyarakat, diantaranya, tidak menyekolahkan anak. Yang berbahaya dengan alasan ini adalah: bagaimana jika lingkungan tempat kita tinggal tidak banyak yg bersekolah? artinya, sekolah disitu justru menjadi sesuatu yang aneh. 

Hal ini banyak terjadi di daerah pedalaman. Tidak umum disana menyekolahkan anak hingga S1. Rata rata berhenti saja di SMA. Dalam situasi seperti ini, siapa yang akan kita ikuti?

Untuk apa sekolah? biar masa depan lebih cerah
Buat penganut jawaban ini, saya ingin menanyakan terlebih dahulu. Menurut Anda, apa indikator masa depan yang lebih cerah? lalu apa indikator bagi masa depan yang lebih suram? apakah ada jaminan pasti bahwa sekolah mencerahkan masa depan kita? apakah kedua hal ini, sekolah dan masa depan cerah, benar benar terkorelasi secara linear? atau ada saja kasus kasus yang membuat tidak linear? Kalau ada, berarti ini bukan jawaban yang kita butuhkan.

Untuk apa sekolah? untuk naik jabatan
Jawaban ini sering dilakukan oleh para pegawai, baik negeri maupun swasta. Banyak diantara mereka yang melanjutkan sekolah demi untuk meningkatkan golongan atau agar di promosikan. Akibat dari hal ini, umumnya mereka tidak peduli dengan proses belajar mengajarnya. Yang penting lulus dan menerima ijazah. Bodo amat mau ngerjain tugas sendiri atau dikerjakan orang lain. Bahkan, bodo amat dapat nilai pas pas an. Bodo amat menyontek, dan lain sebagainya. Berbahaya sekali jawaban seperti ini jika disampaikan kepada anak anak kita.

......

Masih banyak jawaban lain yang mungkin bisa menjawab pertanyaan untuk apa sekolah. Sah sah saja setiap orang berpendapat. Tidak ada yang salah karena setiap jawaban berangkat dari pengetahuan, pengalaman, serta pemahaman masing masing terhadap kehidupan. 

Namun, saya ingin memberitahukan kepada Anda jawaban versi saya tentang pertanyaan untuk apa sekolah. Jawaban ini juga baru saja saya temukan, setelah merenungi apa yang sebenarnya kita cari dari sekolah. Sekolah bukanlah hal yang murah. Sudah bukan hal aneh lagi di Indonesia pendidikan berkualitas sering bertarif tinggi. Setelah lulus sarjana, berapa gaji yang Anda dapatkan? saya pribadi dahulu pertama lulus digaji sebesar 3 jt rupiah. Angka yang sangat jauh jika dibandingkan dengan total biaya yang harus orang tua saya keluarkan untuk menyekolahkan saya dari SD hingga sarjana S1. Saya bekerja 10 tahun pun, biaya orang tua saya mungkin belum balik modal. Saya bersekolah selama 16 tahun!

Lalu, untuk apa bersekolah? kenapa bahkan saya kini mengambil S2? dengan biaya yang juga tidak murah? 

Dalam pandangan saya, kita bersekolah karena Tuhan kita memerintahkan kita untuk menuntut ilmu. Artinya, sekolah sama seperti ibadah sholat, zakat, dan puasa. Memang, cara menuntut ilmu tidak harus dengan sekolah, namun sekolah bisa mempercepat hal tersebut. Sekolah membuat kita bisa berinteraksi dengan guru. Melalui interaksi ini, percepatan belajar akan kita dapatkan. Cobalah bayangkan, seandainya kita belajar autodidak menulis, dan membaca. Apakah bisa cepat? tidak tentunya. Dengan bantuan guru, proses ini bisa dipercepat. 

Dengan alasan ini, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Allah SWT menyuruh kita merenungi ayat ayat Nya yang terhampar di langit dan bumi. Allah SWT bahkan menantang kita manusia untuk menembus langit dan bumi jika kita mampu (QS Ar Rahman). Allah meninggikan hambaNya yang berilmu beberapa derajat. Bahkan Allah menurunkan ayat pertama kepada Nabi Muhammad adalah perintah untuk membaca. Sampai disini, pantaskah kita untuk berhenti belajar? apakah kita pantas membuang kesempatan bersekolah ketika kemungkinan ini ada? 

Jawaban ini bisa diberikan kepada si kecil. Sekolah itu bukan untuk apa apa, ini perintah Allah, Tuhan kita semua. Malaikat memohonkan ampun untuk seseorang yang duduk di majelis ilmu, membahas ilmu-ilmunya Allah. Dengan wasilah ilmu, kita bisa hidup lebih baik. Kita bisa lebih mengerti bahwa uang dan harta bukanlah kompas utama kita. Kita bisa lebih mungkin untuk membantu orang lain, bermanfaat buat orang lain, setidaknya, kita bisa mengajar dan berbagi ilmu untuk orang orang yang kurang beruntung. Melalui wasilah ilmu, kita jadi bisa lebih kenal dengan baginda nabi Muhammad. Kita bisa mencintai beliau dengan lebih baik. Melalui wasilah ilmu, kita bisa menjaga dunia dan isinya. Menunaikan tugas secara lebih baik sebagai Khalifah fil Ardh. Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh orang yang bodoh atau tidak punya ilmu. 

Walaupun mencari ilmu tidak harus dari sekolah, namun sekolah membuka pintu ilmu pengetahuan lebih lebar bagi siapa saja yang mau belajar. Seperti saya sendiri contohnya. Saya suka membaca buku terutama yang berkaitan dengan ekonomi dan syariah. Apakah ilmu saya sudah cukup? ternyata tidak. Saya menyadarinya setelah bersekolah lagi. Apa yang saya baca dari buku, dari internet, tidak lebih baik dari pemahaman yang saya dapatkan ketika berinteraksi dengan ahli ahli nya di sekolah. 

Wallahua'lam 




You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Entri yang Diunggulkan

Untuk apa sekolah? [Penting dibaca para orang tua]

Untuk apa sekolah. Sebuah pertanyaan yang memiliki berbagai versi jawaban, tergantung  kepada siapa Anda bertanya. Pertanyaan ini merup...

Cari Blog Ini